Selasa, 21 April 2015

Hari Ini

Mengapa harus bersedih akan beratnya hari yang kita lalui, sedangkan Allah masih membangunkanmu dari tidurmu pagi tadi.
Mengapa harus menangisi hal tentang manusia, sedangkan kau tidak pernah bersedih ketika meninggalkan perintah-Nya.
Mengapa harus terburu-buru mengejar deadline, sedangkan seruan-Nya pun takpernah kau hiraukan.
Mengapa selalu mengeluh dan menyalahkan segalanya, sedangkan kau masih diberikan oksigen secara gratis untuk bernafas.
Mengapa kita tidak duduk sebentar,  merenungi anugerah apa saja yang telah diberikan oleh-Nya pada kita sampai detik ini?
Mengapa kita tidak berkaca dan berbicara pada tubuh ini, masih haruskah aku congkak dan berjalan dengan "kemampuanku" tanpa menyertakan-Nya di setiap langkahku?
Bersyukurlah atas kegagalan yang pernah kau rasakan. Percaya, itu adalah salah satu cara-Nya untuk mengingatkan kita bahwa Allah sayang pada kita dan tidak ingin kita terlalu jauh dari Kasih-Nya.

Selasa, 17 Maret 2015

Di Kotaku

Di kotaku...
Hujan dijadikan cindera mata. Boleh kau bawa pulang. Tapi buat sendiri pelanginya.

Di kotaku...
Pelangi itu seperti gulali. Kalau mau beli. cukup dengan senyum dari hati.

Di kotaku...
Senja itu seperti sofa. Aku duduk di sana. Menunggumu terbenam dalam rasa.

Di kotaku...
Asap kendaraan takpernah pergi dari pandangan. Aku menembusnya ketika menuju senyum darimu yang kupuja.

Di kotaku...
Bintang-bintang bertebaran bersama para pencakar langit. Kalau kau mau ucap permintaan, kau panjat saja dengan doa.

Di kotaku...
Awan jadi pohon. Aku menaikinya. Merebah pada satu ranting, Mencuri pandang melihatmu dari sana.

Mau pindah ke kotaku? Aku menta dengan sepenuh hati... (adapted by Sadgenic : Rahne Putri)