Selasa, 17 Maret 2015

Di Kotaku

Di kotaku...
Hujan dijadikan cindera mata. Boleh kau bawa pulang. Tapi buat sendiri pelanginya.

Di kotaku...
Pelangi itu seperti gulali. Kalau mau beli. cukup dengan senyum dari hati.

Di kotaku...
Senja itu seperti sofa. Aku duduk di sana. Menunggumu terbenam dalam rasa.

Di kotaku...
Asap kendaraan takpernah pergi dari pandangan. Aku menembusnya ketika menuju senyum darimu yang kupuja.

Di kotaku...
Bintang-bintang bertebaran bersama para pencakar langit. Kalau kau mau ucap permintaan, kau panjat saja dengan doa.

Di kotaku...
Awan jadi pohon. Aku menaikinya. Merebah pada satu ranting, Mencuri pandang melihatmu dari sana.

Mau pindah ke kotaku? Aku menta dengan sepenuh hati... (adapted by Sadgenic : Rahne Putri)

Sabtu, 30 Agustus 2014

Jalan

Siapa yang bisa menebak jalan yang telah direncanakan-NYA? Siapa yang bisa memilih jalan yang ditempuh jika semuanya telah tertulis oleh-NYA? Siapa yang bisa menyangka, hal yang paling tidak mungkin yang pernah kita pikirkan adalah jalan yang nantinya akan membawa kita untuk semakin dekat dengan mimpi-mimpi kita? Tidak pernah terpikirkan olehku, bahwa merantau akan menjadi pilihanku untuk menyelesaikan sarjana. Tidak sejauh yang kalian bayangkan memang. Dengan membulatkan tekad dan doa agar selalu bisa berjalan di jalan-NYA, akhirnya aku memilih jalan itu. Tidak semudah dan senikmat yang kalian bayangkan bagaimana hidup sendiri di kota orang yang berjarak ratusan kilometer dari tempat dimana kalian belajar bersama orang-orang yang memiliki cinta yang tulus. Tapi, kejutan demi kejutan kutemukan di jalan yang telah aku ambil. Bertemu dengan orang-orang yang sedikit banyak merubah diriku ke arah yang lebih positif. Siapa yang menyangka, niat menutup aurat yang telah ada sejak berseragam putih-biru, baru terealisasi ketika aku memilih untuk pergi merantau. Subhanallah.... Bertemu dengan orang-orang yang secara sengaja maupun tidak sengaja memberikan perubahan di dalam hidupku. Tidak ada yang bisa mengerti jalan takdir. Grand Design Allah terlalu indah untuk dipahami. Sesibuk apapun kita mencari jalan yang kita anggap paling baik untuk kita, ketika Grand Design Allah telah tertulis di Arsy-NYA, siapalah kita yang dapat menolaknya. Rahmat dan pertolongan-NYA tidak akan begitu saja datang menghampiri kita. Jemput dan berlarilah kepada-NYA, karena Allah adalah sebaik-baiknya arah yang kita tuju.

Sabtu, 05 Oktober 2013

Hujan (di sudut mata) yang terlalu pagi

Selamat pagi yang terlalu pagi..... Selamat pagi air mata yang terlalu dini.... Ketika air mengalir di sudut gelap mata, banyak yang mengartikan itu sebuah ungkapan kesedihan, kekecewaan, kehilangan. Tapi tidak sedikit yang melakukannya sebagai ungkapan kebahagiaan, kebanggaan, kecintaan. Tapi untuk sebagian orang, menangis merupakan salah satu cara untuk meluapkan rasa di hati. Rasa yang mereka sendiri tidak mengerti bagaimana cara mendeskripsikannya. Rasa yang mereka sendiri sebenarnya tak ingin menyimpannya sendiri. Saat itulah, menangis adalah obat paling mujarab. Jangan pernah menahan air mata yang seharusnya mengalir. Biarkan dia mengalir. Menangis bukan berarti lemah, bukan berarti kalah, bukan berarti menyerah. Semacam mengeluarkan rasa sesak di dada, yang terkadang membuat kita tersengal-sengal untuk bernafas. Lepaskan rasa sesak itu. Menangislah sekeras-kerasnya. Sampai akhirnya, senyumlah yang akan menghapus semuanya.

Sabtu, 29 Juni 2013

RINDU

Selamat malam dunia. Selamat malam untukku yang masih berkutat dengan perasaan gelisah. Entah bagaimana harus mendeskripsikannya, aku tidak pandai dalam menuliskan kata-kata bersajak. Tapi aku punya ingatan yang baik, sangat baik malahan. Aku ingat semua melodi yang pernah kita nyanyikan bersama, aku ingat jalanan yang pernah kita lewati, aku ingat hal-hal "tidak penting" yang kita bicarakan berdua, aku ingat bagaimana caramu menatap ku saatku sedang berbicara. Mungkin agak berlebihan, tapi aku suka caramu memperhatikanku bercerita. Hangat, sangat hangat. Aku merasa aman. Aku ingat aroma parfummu sampai-sampai aku mencarinya dan menyimpannya, karena aku takut jikalau nantinya hidungku melupakan aroma itu. Bisakah kamu memberitahu apa yang sedang aku rasakan sekarang? Aku sendiri takut untuk mengakui apa yang sedang aku rasakan. Mengaku pada diri sendiri saja sulit, apalagi untuk jujur ke orang lain. Mungkin ini yang biasa orang dengungkan ketika mereka ingin bertemu dengan orang yang... yang..... mereka rindukan. Iya, aku rindu kamu. Aku rindu bersamamu. Aku rindu berada di belakangmu. Aku rindu merasakan nyaman dan aman saat bersamamu. Aku rindu ketika kita mentertawakan dunia dengan sisi kita sendiri. Aku rindu ketika aku tidak harus menjadi orang lain. Dan saat itu adalah saat aku bersamamu...

Jumat, 15 Maret 2013

Semoga

Semoga aku tak tuli, saat kamu mengetuk pintu hatiku. Karena aku takut, membiarkanmu berdiri sendiri di luar, kemudian berlalu. Jika kau berlalu, lagi-lagi aku harus melewati jam-jam panjang sendiri. Dan angin gelisah kembali datang melalui celah jendelaku. (Sadgenic. Rahne Putri)

Pilihanku

Ada saat di mana kita tidak perlu menoleh ke belakang. Jangan lihat lagi apa yang sudah ikhlas kita tinggalkan. Aku percaya, itu akan meringankan langkah, untuk menjemput sesuatu yang baru. Sesuatu yang lebih melegakan. Sesuatu yang membuat kita bersyukur, karena menjemputnya dengan tangan yang sengaja sudah dikosongkan. Sungguh itu tidak semudah bernafas. Aku terdiam terlalu lama untuk menahan diri tidak menoleh ke belakang. Saat aku berhenti, waktu tak ikut menemani. Dia terus berjalan. Pilihanku, tertinggal jauh di masa lalu atau ku kejar waktu dengan harapan. Kuputuskan untuk mengejar waktu, semoga tak tersandung lagi oleh bayanganmu. Dan.... Semoga aku tidak berjalan mundur. (Sadgenic. Rahne Putri)

Datang

Kalau kamu datang, aku berjanji tidak akan pernah bertanya kenapa baru datang sekarang. Kalau kamu datang, aku berjanji tidak akan membuatmu berdiri di depan pintu terlalu lama. Kalau kamu datang, aku berjanji tidak akan bertanya, hati mana saja yang sudah kau lewati untuk sampai di sini. Karena dengan langkahmu, aku terbangun, dari mati suri yang kunina-bobokan sendiri. Kalu kamu datang, tolong jangan pergi. Aku lelah menjaga pintu. Kalau kamu datang, aku berani bersumpah, aku tenang. (Sadgenic. Rahne Putri)